Pahit Tetapi Lega

Aku adalah orang yang pemikir. Suatu kejadian terkadang akan membekas dalam ingatan terlalu lama, walaupun indah maupun buruk. Beberapa hari yang lalu, aku mendapat suatu kabar yang sangat memukulku, namun di saat yang bersamaan aku sedikit lega.
Aku sudah hampir dua tahun ikut mengajar dalam suatu bimbingan belajar di dekat kampus. Aku pernah ikut di beberapa bimbel. Bimbel pertama yang menerimaku sekarang tidak membuka program bimbingan karena sedang pandemi covid, hanya beberapa bimbel yang mempunyai manajemen yang bagus yang masih bertahan. Paruh semester genap yang lalu, aku ditawari untuk mengajar di dua bimbel sekaligus dan aku juga mengajar privat. Pada saat yang bersamaan, begitu banyak pekerjaan yang datang bersamaan dengan tugas kuliah dan juga tugas akhir yang hampir terbengkalai. Aku menjalani hari-hari dengan sangat tertekan dan sangat berimbas pada ujian tengah semester. Jujur aku sangat tidak memprioritaskan UTS kala itu. Tenggat tugas akhir yang sangat dekat, beberapa tenggat pekerjaan yang saling berkejaran, bahkan aku tidak bisa makan dengan baik, akupun sering menangis entah kenapa. Kala itu aku sempat mengalami gangguan pada siklus haid dan itu mengerikan. Aku mencoba konsultasi dengan dokter dan kesimpulannya adalah 'aku terlalu stres'.
Tak ingin bernasib sama dengan yang lalu, setelah UTS selesai, aku memutuskan untuk mengakhiri mengajar privat. Namun tak disangka, tawaran mengajar dari salah satu bimbelpun tidak ada kepadaku. Hanya tersisa satu bimbel yang lain, namun mata kuliah yang harus kuampu kurang aku kuasai, aku perlu belajar keras untuk mata kuliah itu. Tapi ya sudahlah, aku berpikir bahwa itu adalah tantangan dan akupun juga mulai tertarik dengan mata kuliah itu.
Masalah mulai datang saat aku dihadapkan pada dua keadaan yang sangat membuat stres, menyelesaikan tugas akhir atau menyelesaikan deadline pekerjaan. Sekedar informasi, kampusku berbeda dengan kampus pada umumnya, kami tidak bisa telat menyelesaikan tugas akhir dan mengambil semester tambahan. Pilihannya hanya selesaikan atau DO (sangat mengerikan). Aku sudah pernah mengatakan kepada manajemen bimbel, bahwa aku sedang hectic menyelesaikan tugas akhir dan mencoba menolak tawaran pekerjaan itu. Namun, mereka tetap bilang tidak apa dan memperbolehkan aku memprioritaskan tugas akhir. Ketika hari-hari pengumpulan tugas akhir, hari-hari itu juga adalah tenggat pekerjaan itu. Setiap hari manajemen menghubungiku dan aku sangat stress. Kebiasaan burukku adalah menghilang (tidak benar-benar menghilang, hanya tidak membalas pesan) ketika ditagih deadline pekerjaan. Aku tetap mengerjakannya, namun aku tidak berani bilang belum selesai. Pada suatu malam kuberanikan untuk mengatakan, maaf dosen pembimbingku minta revisi. Mereka mengatakan, oh iya tidak apa, selesaikan dulu tugas akhir saja. Aku tidak pernah tidur dengan tenang, bahkan satu minggu aku demam. Hingga saat suatu malam aku menangis, karena file yang harusnya sudah hampir selesai menghilang dan tidak tersimpan di laptopku. Hari terakhir pengumpulan tugas akhir sudah tiba, esoknya aku hanya punya tanggungan untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Aku harus memulai pekerjaan itu dari awal, aku sedikit bersyukur karena aku sudah memahami alur pengerjaannya, sehingga sedikit lebih memudahkan untuk mengulangnya lagi. Tapi ya, itu sangat memberatkan.
Dua hari kemudian aku telah menyelesaikannya, responnya masih baik, namun hal tersebut yang tidak aku sadari. Keesokan harinya, mereka bertanya, apakah aku bersedia menggantikan temanku untuk mengajar di hari selasa atau rabu, dan jadwalku hari jumat untuk mengajar digantikan oleh orang lain. Muncul perasaan tidak enak, kemudian aku bertanya, apakah maksudnya digantikan seterusnya. Tiga hari berlalu, kemudian ada pesan masuk di ponselku. Intinya, mereka mengatakan bahwa kinerjaku sangat tidak maksimal, dan mereka sudah berdiskusi untuk memberhentikannku. Pada saat yang bersamaan, aku sedang mengetik materi yang besok akan kubagikan ke siswaku. Sedih, sangat. Tetapi aku lega, sudah tiga hari aku memikirkan apakah aku besok bisa mengajar dengan baik, namun tetap meyakinkan diri bahwa aku bisa. Akhirnya tugas lain aku kesampingkan, tidak belajar untuk materi kuliah, tidak benar-benar mendengarkan saat kelas, bahkan melewatkan rencana-rencana untuk berolahraga. Aku masih sedih saat mengingatkanya, terhitung empat hari aku selalu memikirkannya, buah dari kecerobohannku, kemalasanku?, ah entahlah. Kabar baiknya adalah aku sudah tidak terbebani lagi dan merasa bisa tersenyum lagi, walaupun tetap kepikiran, hehe. Tinggal tiga minggu tersisa waktu kuliahku. Aku harus semangat dan berusaha lebih keras supaya nilai UAS ku bisa lebih baik dari UTS. Doakan semoga kuliahku lancar dan aku tidak mengantuk saat kelas. Insha Allah aku wisuda (online xixixi) pertengahan Oktober. Doakan aku penempatan BPKP. Aamiin Ya Allah.
Tau gak, sebelum nulis ini tadi aku takut, apakah aku akan lebih sedih selesai menulisnya, ternyata tidak, yipii, Alhamdulillah ya...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UTS yang mengenaskan

Postingan perdana

Menulis Blog Karena Hemat